JAKARTA - Hujan yang turun berhari-hari memengaruhi respons tubuh terhadap energi.
Banyak orang merasa lebih cepat lapar meski belum memasuki jam makan. Fenomena ini disebabkan tubuh menyesuaikan kebutuhan energi dengan lingkungan yang lebih dingin dan lembap.
Saat paparan sinar matahari berkurang, produksi serotonin di otak ikut menurun. Serotonin yang rendah membuat suasana hati menurun dan tubuh mencari kompensasi. Salah satunya adalah melalui konsumsi makanan yang dapat meningkatkan ketersediaan serotonin, terutama yang mengandung karbohidrat.
Penurunan mood akibat cuaca hujan memicu keinginan makan lebih sering. Otak mengaitkan makanan tertentu dengan rasa nyaman dan aman. Hal ini membuat kita cenderung memilih camilan yang memberi kepuasan emosional, bukan semata karena lapar fisik.
Suhu Tubuh yang Menurun Memicu Rasa Lapar
Lingkungan yang dingin memaksa tubuh meningkatkan produksi panas internal. Proses termoregulasi ini membutuhkan energi tambahan dari makanan. Tubuh kemudian memberi sinyal lapar untuk menambah cadangan energi.
Makanan dan minuman hangat menjadi pilihan alami karena dua fungsi sekaligus. Pertama sebagai sumber energi, kedua memberi sensasi nyaman secara langsung. Kebiasaan ini membuat orang cenderung makan lebih banyak saat hujan dibandingkan suhu normal.
Penurunan suhu juga memengaruhi metabolisme basal tubuh. Tubuh membakar lebih banyak kalori untuk mempertahankan suhu inti. Inilah alasan mengapa lapar muncul lebih cepat saat cuaca lembap dan dingin.
Mood Turun dan Efek Psikologis pada Nafsu Makan
Cuaca hujan yang berkepanjangan sering menurunkan mood. Aktivitas yang tertunda dan langit mendung membuat perasaan muram meningkat. Kondisi ini mengubah cara otak memproses rasa lapar dan kepuasan makan.
Makanan menjadi pelarian emosional saat mood menurun. Kenangan masa kecil menikmati camilan saat hujan muncul kembali. Otak menghubungkan makanan tertentu dengan rasa aman dan nyaman, yang dikenal sebagai comfort food.
Keinginan makan emosional bisa muncul tiba-tiba tanpa perut yang benar-benar lapar. Rasa lapar semacam ini berbeda dengan lapar fisik yang datang bertahap. Memahami perbedaan keduanya penting agar tidak berlebihan mengonsumsi kalori.
Strategi Menjaga Berat Badan di Musim Hujan
Mengetahui perbedaan lapar fisik dan emosional membantu mengontrol asupan makanan. Lapar fisik bisa ditunda, sedangkan lapar emosional cenderung muncul tiba-tiba. Langkah awal menjaga berat badan adalah mengenali sinyal tubuh dengan tepat.
Pilihan makanan hangat tidak harus tinggi kalori. Sup sayuran, protein sederhana, dan minuman hangat rendah gula bisa memberi kenyamanan. Cemilan sehat seperti buah, kacang rebus, atau umbi kukus membuat kenyang lebih lama.
Aktivitas fisik tetap penting meski cuaca hujan. Peregangan, berjalan sebentar, atau membersihkan rumah membantu metabolisme tetap aktif. Tubuh yang bergerak meski di dalam rumah mampu menyesuaikan energi yang dibakar dengan kebutuhan asupan makanan.
Tubuh Beradaptasi dengan Lingkungan Dingin
Rasa lapar lebih sering saat hujan adalah respons tubuh terhadap perubahan suhu, cahaya, dan ritme aktivitas. Mekanisme ini membantu tubuh mempertahankan keseimbangan energi dan rasa nyaman. Sinyal lapar yang meningkat bukan tanda kurang kontrol diri, melainkan adaptasi alami.
Tubuh menggunakan makanan sebagai sumber energi dan kenyamanan emosional. Lingkungan dingin dan lembap memicu peningkatan konsumsi makanan secara fisiologis dan psikologis. Menyadari hal ini membantu mengatur pola makan dengan lebih bijak.
Pemahaman tentang pengaruh cuaca terhadap rasa lapar membantu menyesuaikan strategi makan. Mengatur porsi, memilih makanan hangat rendah kalori, dan tetap bergerak dapat mencegah kenaikan berat badan. Tubuh yang adaptif terhadap cuaca tetap bisa seimbang tanpa mengorbankan kesehatan.