Harga Minyak

Harga Minyak Dunia Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan Geopolitik Global

Harga Minyak Dunia Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan Geopolitik Global
Harga Minyak Dunia Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan Geopolitik Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan tren positif pada awal pekan perdagangan. 

Kenaikan ini melanjutkan penguatan signifikan yang terjadi pada sesi sebelumnya. Sentimen pasar tetap dipengaruhi dinamika geopolitik global yang belum mereda.

Harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$66 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI berada di kisaran US$61,21 per barel. Kedua acuan tersebut sama-sama mencatatkan kenaikan moderat pada perdagangan pagi.

Penguatan harga ini terjadi meskipun sejumlah faktor teknis telah kembali normal. Salah satunya adalah beroperasinya kembali pipa ekspor utama dari Kazakhstan. Namun, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada potensi gangguan pasokan global.

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran

Situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama penggerak harga. Ketegangan yang terus meningkat membuat pasar bersikap lebih berhati-hati. Kondisi ini turut menambah premi risiko pada harga minyak dunia.

Sejumlah aset militer Amerika Serikat diperkirakan akan tiba di kawasan Timur Tengah. Kehadiran armada tersebut meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik. Pasar memandang langkah ini sebagai sinyal risiko yang perlu diantisipasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa negaranya mengirimkan armada ke arah Iran. Ia menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan. Pernyataan itu langsung direspons pasar dengan peningkatan sentimen penghindaran risiko.

Respons Iran dan Dampaknya ke Pasar

Peringatan dari pihak Amerika Serikat mendapat respons tegas dari Iran. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa negaranya akan menganggap setiap serangan sebagai perang total. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan minyak.

Ketegangan verbal ini memperburuk persepsi risiko di kawasan penghasil energi utama dunia. Investor cenderung mengantisipasi potensi gangguan distribusi minyak. Situasi tersebut mendorong harga bergerak lebih tinggi.

“Pernyataan Presiden Trump mengenai armada AS yang menuju Iran kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan, sehingga menambah premi risiko pada harga minyak dan mendorong arus penghindaran risiko,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore.

Faktor Teknis dan Produksi Global

Di sisi lain, pipa ekspor Caspian Pipeline Consortium di Kazakhstan telah kembali beroperasi penuh. Terminal pesisir Laut Hitam kini kembali memuat minyak pada kapasitas normal. Pemeliharaan di salah satu titik sandar sebelumnya telah selesai dilakukan.

Normalisasi operasional tersebut sempat menahan laju kenaikan harga. Namun, dampaknya terbatas karena sentimen geopolitik lebih dominan. Pasar tetap menilai risiko pasokan masih tinggi.

Dari Amerika Serikat, laporan terbaru menunjukkan penurunan produksi minyak mentah dan gas alam. Penurunan ini dipicu oleh badai musim dingin ekstrem yang melanda beberapa wilayah. Kondisi cuaca tersebut turut memengaruhi stabilitas pasokan energi.

Cuaca Ekstrem dan Prospek Harga

Badai musim dingin menyebabkan gangguan produksi di sejumlah wilayah utama. Produksi minyak terdampak dengan kehilangan pasokan sekitar 250.000 barel per hari. Penurunan terjadi di wilayah Bakken, Oklahoma, dan sebagian Texas.

“Produksi minyak juga terdampak cuaca musim dingin ekstrem, dengan kehilangan pasokan sekitar 250.000 barel per hari, termasuk penurunan di wilayah Bakken, Oklahoma, dan sebagian Texas".

Selain itu, harga listrik spot di Amerika Serikat juga mengalami lonjakan. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya permintaan energi di tengah suhu ekstrem. Kombinasi faktor cuaca dan geopolitik menjaga harga minyak tetap berada dalam tren menguat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index